2.1. Kutipan
2.1.1.
Pengertian Kutipan
Menurut Widjono
H.S (2012:92) “kutipan atau saduran
(parafrasa) adalah salinan kalimat, paragraf, atau pendapat dari seorang
pengarang atau ucapan orang terkenal karena keahliannya, baik yang terdapat
dalam buku, jurnal, baik yang melalui media cetak maupun elektronik.”
Menurut Macken-Honaric (2005:52), “kutipan adalah pinjaman gagasan dalam bentuk
ungkapan, kalimat, atau paragraf dari sumber tertentu dan dimasukkan dalam teks
karya tulis”. Menurut pendapat Keraf (2004:202) “kutipan adalah salinan kalimat
atau pendapat seorang pengarang yang terkenal baik terdapat dalam buku-buku
ataupun majalah.” Jadi, dari pendapat beberapa ahli di atas, penulis
menyimpulkan kutipan adalah salinan kalimat, paragraf, atau pendapat
dari seorang pengarang terkenal yang didapat dari sumber tertentu dan
dimasukkan dalam teks karya tulis.
2.1.2.
Penulisan Kutipan
Dalam
mengutip terdapat aturan yang harus diperhatikan agar tulisan kita tidak dicap
menjiplak gagasan seseorang sebagai hasil karyanya. Adapun cara penulisan
kutipan yang dibedakan berdasarkan macam-macam kutipan.
2.1.2.1. Kutipan langsung
Menurut Widjono
(2012:92), kutipan langsung adalah “salinan yang persis sama dengan sumbernya
tanpa perubahan”. Pada kutipan langsung pengutip tidak diperkenankan untuk
mengubah pernyataan yang ada pada teks asli. Pada saat melakukan kutipan
langsung pengutip harus mencantumkan sumber kutipan. Ada dua cara melakukan
kutipan langsung, yaitu kutipan langsung yang kurang dari lima baris (kutipan
langsung kurang dari 40 kata) dan kutipan langsung yang lebih dari lima baris
(kutipan langsung lebih dari 40 kata).
a. Kutipan
langsung yang kurang dari lima baris (kutipan langsung kurang dari 40 kata)
Kutipan langsung kurang dari lima
baris ditulis menyatu dengan teks. Untuk menunjukkan kutipan dengan jelas,
kutipan jenis ini diapit tanda petik yang diikuti nama penulis, tahun dan nomor
halaman di dalam kurung.
Contoh:
“kutipan adalah salinan kalimat atau
pendapat seorang pengarang yang terkenal baik terdapat dalam buku-buku ataupun
majalah” (Keraf, 2004:202).
b. Kutipan
langsung yang lebih dari lima baris (kutipan langsung lebih dari 40 kata)
Kutipan langsung yang lebih dari
lima baris (kutipan langsung lebih dari 40 kata) ditulis terpisah dari teks,
spasi rapat (satu spasi), margin kiri masuk ke dalam teks lima spasi, dari
margin kanan tiga spasi.
Contoh:
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia disebutkan bahwa :
Ragam bahasa
standar memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat berubah setiap
saat. Kaidah pembentukan kata yang menerbitkan perasa
dan perumus dengan taat asas
harus menghasilkan bentuk perajin dan
perusak dan bukan pengrajin
atau pengrusak.
Ketaatasasan
ragam baku ini dalam penulisan ilmiah perlu dilaksanakan secara konsisten sehingga menghasilkan ekspresi pemikiran yang objektif.
2.1.2.2. Kutipan Tidak Langsung
Menurut Widjono
(2012:93) kutipan tidak langsung adalah “menyadur, mengambil ide dari suatu
sumber dan menuliskannya sendiri dengan kalimat atau bahasa sendiri.” Sedangkan
menurut Karsinem (2014:125) ) kutipan tidak langsung adalah “memberikan
penjelasan bahwa penulisan kutipan tidak langsung dilakukan dengan menyajikan
pendapat atau konsep yang dikutip dengan kata-kata atau kalimat sendiri.”
Penulisan digabungkan ke dalam teks, tidak diapit tanda petik, spasi sama
dengan teks, dan tidak mengubah isi atau ide penulis asli. Penulisan disertai
data pustaka sumber yang dikutip, dapat berupa catatan kaki atau data pustaka
dalam teks. Cara menyadur ada dua macam, masing-masing berbeda cara, tujuan,
dan manfaatnya.
a. Cara
pertama meringkas, yaitu menyajikan
suatu karangan atau bagian karangan yang panjang dalam bentuk ringkas.
Meringkas bertujuan untuk mengembangkan ekspresi penulisan, menghemat kata,
memudahkan pemahaman naskah asli, dan memperkuat pembuktian. Berikut adalah
proses meringkas karangan berdasarkan urutan:
1) Bertolak
dari karangan asli, dengan membaca secara cermat keseluruhan naskah asli dari
tema sampai dengan kesimpulan, dan merangkum pikiran-pikiran utama.
2) Mereproduksi
karya asli dalam bentuk ringkas dengan menyajikan pikiran-pikiran utama seluruh
karangan dalam dalam hubungan logis; memotong, memangkas, atau menghilangkan
unsur-unsur berikut:
a) Latar
belakang
b) Keindahan
gaya bahasa
c) Ilustrasi
d) Penjelasan,
rincian, dan detail
e) Kutipan
f) Sumber
kutipan
g) Data
pustaka
h) Deskripsi
data
i)
Contoh-contoh
3) Menyusun
ringkasan dengan mempertahankan keaslian naskah:
a) Pikiran
pengarang
b) Pendekatan
naskah
c) Urutan
pikiran
d) Istilah-istilah
e) Data
yang sudah diolah (hasil analisis)
f) Kesimpulan
g) Sudut
pandang pengarang asli
Contoh ringkasan:
Direktur strategi
bisnis melaporkan kinerjanya dengan tema upaya memecahkan masalah perusahaan PT
Exelco, yang cenderung merugi. PT Exelco pembuat perlengkapan kamar mandi
modern dihadapkan pada pilihan meminjam uang di bank untuk pembenahan sistem
produksi dan manajemen atau menjual perusahaan dengan harga yang relatif
rendah. Kajian analisis, pilihan pertama menjual
perusaan yang berarti kerugian, mengingat produk perusahaan itu pada tahun
1990-2004 berkualifikasi standar internasional (ISO 9001) dan pelanggan sudah
mencapai 20 persen di Asia, 5 persen di Eropa, dan 2 persen di Amerika.
Masalahnya produk terbatas karena ketinggalan teknologi dan mekanisme manajemen
yang tidak efisien. Pilihan kedua meminjam
modal di bank sebesar lima miliar rupiah dengan perincian untuk pembenahan
teknologi produksi sebesar empat miliar rupiah dengan perician untuk pembenahan teknologi produksi sebesar empat
miliar rupiah dan sisanya untuk membenahan manajemen dan rekuitmen tenaga ahli
potensial. Cara ini lebih menguntungkan. Kesimpulan: mengunakan pilihan kedua.3
3Direktur
Strategi Bisnis, Laporan
Pertanggungjwaban Strategi Bisnis, (Jakarta: PT Wringin, 2002), h. 1-20.
b. Cara
kedua ikhtisar, menurut widjono (2012:95) cara ikhtisar yaitu “menyajikan suatu
karangan yang panjang dalam bentuk ringkas, bertolak dari naskah, tetapi tidak
mempertahankan urutan, tidak menyajikan keseluruhan isi, langsung kepada inti
bahasan yang terkait dengan masalah yang hendak di pecahkan”. Ikhtisar
memerlukan ilustrasi untuk menjelaskan inti persoalan.
Contoh ikhtisar:
Setelah melakukan kajian yang
mendalam laporan Direktur Strategi Bisnis PT Exelco, Direktur Utama berserta
para pemegang saham memutuskan kebijakan bisnis yang lebih menguntungkan yaitu
memeinjam modal di bank untuk pembenahan teknologi produksi dan sistem
manajemen. 4
4Direktur
Strategi Bisnis, Ibid, hlm. 15.
2.1.2.3 Kutipan (Refenrensi) dengan Endnote
Artikel dan makalah
pendek yang tidak menggunakan catatan kaki (footnote) dapat mengguakan data
pustaka dalam teks (endnote). Berikut menurut pendapat Widjono pemikiran yang
mendasari penulisan demikian, antara lain sebagai berikut:
1. Kelaziman
endnote dalam penulisan artikel jurnal ilmiah.
2. Artikel
lazim dimuat dalam surat kabar dan majalah populer.
3. Ruang
untuk menuliskan catatan kaki dan bibliografi terbatas.
4. Penulisan
cenderung menggunakan ragam bahasa populer.
5. Pembaca
artikel bermacam-macam latar belakang ilmu pengetahuan.
6. Pertimbangan
akademis bukan unsur utama karena yang dipentingkan fungsi informasi.
7. Surat
kabar dan majalah mengutamakan efektivitas dan efisisensi, setiap baris/ kolom
diperhitungkan secara komersial.
8. Pemuatan
catatan kaki (footnote) dan biblografi dinilai memboroskan ruang, yang dapat memperkecil
nilai komersial
9. Penulisan
artikel yang pendek tidak menuntut catatan kaki dan bibliografi.
Data pustaka dalam teks digunakan dalam
menulis karangan pendek, misalnya artikel surat kabar. Data pustaka dapat
ditempatkan pada awalan kutipan (saduran) dan dapat pula pada akhir kutipan
(saduran). Data pustaka yang dituliskan: pencipta ide, penulis buku, nama buku,
tahun, dan halaman.
Contoh penulisan data pustaka dalam
teks:
1. Data
pustaka pada awal kutipan
Hatch dan Gardner (dalam Daniel
Goleman, Inteligence Emotional, 2002:
166) mengidentifikasi kecerdasan antarpribadi berdasarkan keterampilan esensial
dalam (1) mengorganisasi kelompok, (2) mencegah konflik dalam merundingkan
pemahaman, (3) empati dalam menjalin, mengenali, dan merespon hubungan pribadi,
(4) mengungkapkan perasaan dan keprihatinan secara tepat, (5) melakukan
analisis sosial dalam mendeteksi perasaan orang lain menuju bentuk terbaik
sehingga diperoleh suatu ketajaman antarpribadi, dan (6) memanfaatkan unsur
pembentuk daya tarik, keberhasilan sosial, dan karisma.
2. Data
pustaka pada akhir kutipan
Kecerdasan antarpribadi adalah
kemampuan untuk memahami orang lain apa yang memotifasi mereka, bagaimana
mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu-membahu dengan mereka. Sedangkan
kecerdasan intrapribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke
dalam diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri sendiri serta kemampuan
menggunakan model untuk menempuh kehidupan yang efektif (Howard Gardner, Multiple Inteligence, dalam Daniel
Goleman, Inteligence Emotional,
2002:52).
2.2.
Bibliografi
2.2.1. Pengertian
Bibliografi
Daftar
rujukan atau referensi adalah daftar yang mencantumkan semua dokumen yang
menjadi rujukan dalam tulisan karya ilmiah termasuk skripsi. Daftar rujukan
dibedakan menjadi daftar pustaka dan bibliografi. Menurut Leo,S. dkk.
(2007:111), daftar pustaka mencantumkan semua dokumen baik yang dikutip maupun
tidak dikutip, sedangkan bibliografi hanya mencantumkan dokumen-dokumen yang
dikutip secara langsung dan tidak langsung. Oleh karena itu, semua nama penulis
yang ditulis dalam bibliografi pasti tercantum dalam badan tulisan karya
ilmiah.
Bibliografi
adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan
bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan
atau sebagian dari karangan yang telah digarap. (Gorys Keraf, 1997).
2.2.2. Penulisan
Bibliografi
Cara penulisan:
1.
Urutan nama pengarang disusun dari belakang ke
depan mengikuti urutan dalam buku kecuali nama Tionghoa. Kemudian nama
belakang penulis diikuti tanda koma (,) dan diberi jarak satu spasi, kemudian
ditulis huruf awal atau inisial nama pertama, kedua, dan seterusnya bila ada
dengan huruf kapital dan diikuti tanda titik (.).
2. Tahun
terbit dicantumkan setelah tanda titik (.) yang mengikuti inisial (terakhir)
nama penulis dengan jarak satu spasi. Jika angka tahun tidak dicantumkan maka
berilah singkatan t.t (tanpa tahun).
3.
Judul buku dicetak miring dalam ketikan atau
tulisan tangan nama buku digaris bawahi dan diikuti oleh
tanda titik (.).
4. Kota
penerbit ditulis dengan jarak satu spasi setelah judul buku, diikuti tanda
titik dua (:).
5.
Nama penerbit
dicantumkan dengan jarak satu spasi setelah tanda titik dua (:) yang mengikuti
kota penerbit, dan diakhiri tanda titik.
Jika penulisan daftar
rujukan/bibliografi lebih dari satu baris maka untuk baris selanjutnya
dimasukkan ke dalam satu tab atau tujuh huruf dari margin kiri. Sistematika
penulisan daftar rujukan/bibliografi dapat disingkat dengan NaTaJuKoPen (Nama
Pengarang, Tahun Terbit, Judul Buku,
Kota Terbit: Penerbit).
2.2.2.1. Satu Pengarang
Nama belakang penulis ditulis
lebih dulu kemudian diikuti tanda koma dan nama pertama penulis. Setelah nama
penulis kemudian diikuti tanda titik (.). penulisan daftar rujukan/bibliografi
ini sama dengan cara penulisan daftar rujukan/bibliografi pada umumnya.
Contoh:
Kaelan, 2014, Pendidikan Pancasila, Sleman: Paradigma.
Munandar, Utami,
1999, Pengembangan Kreatifitas Anak
Berbakat, Jakarta: Rineka Cipta.
Willis, Sofyan S., Remaja &
Masalahnya: Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja, Narkoba, Free Sex dan
Pemecahannya, Bandung : Alfabeta.
2.2.2.2. Dua Pengarang
Pada penulisan dengan
dua pengarang ini berbeda dengan penulisan daftar rujukan/bibliografi dengan
satu pengarang. Penulis dua pengarang atau lebih, nama penulis pertama dibalik,
sedangkan nama penulis kedua dan seterusnya tidak dibalik.
Contoh:
Arifin, E.Z dan
S.A. Tasai, 1999, Cermat Berbahasa
Indonesia, Jakarta: Akademika Presendo.
Ayres, Frank dan
Philip A. Schmidt, 2004, Schaum’s Outline
of Teori dan Soal-soal: MATEMATIKA UNIVERSITAS, Jakarta: Erlangga.
Suranto, Edy dan Ali
Kusnanto, 2011, Matematika: Kelompok
Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Akuntansi, Jakarta: Yudhistira.
2.2.2.3. Tiga Pengarang
Pada
penulisan dengan tiga pengarang ini nama penulis dituliskan sesuai dengan
aturan penulisan pada umumnya, hanya saja untuk nama penulis kedua dan ketiga
tidak dibalik, diikuti tanda koma (,) pada awal dan akhir nama penulis kedua.
Antara nama penulis kedua dan ketiga diberi kata penghubung ‘dan’.
Contoh:
Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakur H. Ridwan,
1999, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa
Indonesia, Jakarta: Erlangga.
Atosokhi, Antonius, Antonina Panca Yuni Wulandari, dan
Yohanes Babasari, 2003, Charavter Building II Relasi Dengan Sesama,
Jakarta: Elex Media Komputindo.
Gibson, Ivancevich, and Donelly, 1997, Organisasi Edisi ke-8, terj.
Nunuk Adiarni, Jakarta: Bina Aksara.
2.2.2.4. Lebih dari Tiga
Pengarang
Untuk penulisan
daftar rujukan/bibliografi lebih dari tiga pengarang nama penulis pertama
dituliskan sesuai dengan aturan penulisan pada umumnya. Kemudian untuk nama
penulis kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ditulis dengan dkk (dan
kawan-kawan) dan diikuti tanda koma.
Contoh:
Darmodihardjo,
Dardji, dkk., 1922, Santiaji Pancasila, Usaha Nasional:
Surabaya.
Heuken, A. SJ., dkk., 1988, Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila, Edisi ke 6, Jakarta:
Yayasan Cipata Loka Caraka.
Munandar, Sulaiman, dkk., 1995, Ilmu Budaya Dasar, Bandung: PT. Eresco.
2.2.2.5. Editor atau
Penyunting
Pada penulisan penulisan
daftar rujukan/bibliografi ini hanya dicantumkan nama editornya saja yang
ditulis dengan (ed).
Contoh:
Halim, Amran (ed), 1976, Politik Bahasa Nasional I, Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Hardani, Wibi (ed), 2001, Elemen-elemen
Elektromagnetika Teknik, Jakarta: Erlangga.
Iskandar, Yul (ed), 2001, Tes
Potensi Akademik, Jakarta: Yayasan Dharma Graha.
2.2.2.6. Terjemahan
Pada penulisan penulisan
daftar rujukan/bibliografi ini dicantumkan nama pengarang aslinya, diikuti
dengan terj.(terjemahan), kemudian
dicantumkan nama penerjemah dari sebuah buku.
Contoh:
Amstrong, Thomas, 2002, Sekolah
Para Juara MenerapkanMultiple Intelligence di Dunia Pendidikan, terj. Yudhi
Martanto, Bandung: Kaifa.
Kiyosaki, T. Robert, 2003, Rech
Dad Poor Dad, terj. J. Dwi Helly Purnomo, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Campbell, Don, 2002, Efek Mozart Memanfaatkan Kekuatan Musik untuk
Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas, dan Menyehatkan Tubuh, terj.
T Hermaya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
2.2.2.7. Artikel dalam Jurnal dan Majalah
Untuk penulisan daftar
rujukan/bibliografi artikel dalam jurnal dan majalah, judul artikel dalam tanda
petik dua (“ “), tanda koma diberikan sebelum tanda petik dua. Petunjuk yang
sama ini berlaku pula bagi pengutipan artikel sebuah ensiklopedia, bunga
rampai, atau bab dalam buku. Kemudian untuk nama buku, jurnal makalah, dan
ensiklopedia dicetak miring atau digaris bawahi.
Contoh:
Nur Hidayat,
“Analisis Perbandingan Laporan Keuangan Fiskal vs Laporan Keuangan Komersial,” Jurnal Perpajakan Indonesia, 1:10, 32-39
(Jakarta, Mei 2002).
Peterson
Lizette, “ Lowering Risk for Early Alcohol Use by Challenging Alcohol Expect in
Elementary Shool Children,” Journal of
Conseling and Clinical Psichology, vol. 71 (Juni, 2003).
2.2.2.8. Tajuk Rencana, Artikel tanpa Nama
Sumber rujukan seperti
tajuk rencana biasanya tidak mencantumkan nama penulis. Untuk itu, posisi nama
penulis dalam daftar rujukan/bibliografi diganti dengan nama kamus, atau
ensiklopedi. Judul artikel ditulis dengan huruf kapital pada setiap inisialnya
diikuti tanda koma dan berada dalam tanda petik dua.
Contoh:
Tajuk Rencana, “Membangun Perangkat Lunak Demokrasi,” Kompas, 24 September 2004.
Tajuk Rencana, “Sekjen PBB
Ingatkan Bahaya Pelanggaran Hukum Tanpa Malu,” Kompas, 24 September 2004.
2.2.2.9. Wawancara, Interview Radio, dan Televisi
Contoh Penulisan:
Natabaskara,
Roni, Interview Televisi, “Pentingnya Penyuluhan untuk Membuat Masyarakata
Berpikir Logis,” Rajawali Citra Televisi Indonesia, Jakarta 14 Agustus 2004.
Sugianto,
Bedjo, Interview Televisi, “Mahalnya Uang Pangkal di PTN bagi Calon Mahasiswa
Baru,” Televisi Pendidikan Indonesia, Jakarta 15 Agusstus 2004.
2.2.2.10. Disertasi Diterbitkan
Disertasi yang tidak diterbitkan
ditulis dalam tanda petik dua.
Keterangan tenta ng disertasi, tesis atau skripsi, nama perguruan tinggi dan
tahun ujian skripsi harus dituliskan
Contoh:
Keraf Gregorius, Morfologi
Dialek Lamalera. Disertaasi UI 1978. Ende/Flores: Arnoldus, 1978.
Siwwi
Purwanti, Partisipasi Remaja dalam
Penghijauan Kota: Survei pada Remaja di Kelurahan Sukapura Jakarta Utara,
Disertasi Universitas Negeri Jakarta, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
2.2.2.11. Disertasi
tidak Diterbitkan
Disertasi, tesis, dan skripsi yang diterbitkan diberi
notasi sebagai buku. Akan tetapi keterangan tentang disertasi, tesis atau
skripsi harus diberikan nama perguruan tinggi dan tahun ujian skripsi.
Contoh:
Hermana
Sumantri, “ Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan Beberapa Faktor
Psikologis yang memengaruhinya,” Disertasi Univesitas Negeri Jakarta, Jakarta,
2000.
Karibin
Maryono Akhadiah Sabarti, “Pengaruh Materi Pengajaran bahasa Indonesia, Lokasi
Sekolah dan Jenis Kelamin terhadap Kemampuan Penalaran Siswa SMP,” Disertasi
IKIP, Jakarta, 1983.
2.2.2.12. Sumber dari
Internet
Contoh Penulisan:
Kumaidi. 1988. “Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya.”
Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online),
Jilid 5, No. 4, (http://www.Malang.ac.id,
diakses 20 Januari 2000).
Scientific American. 2000. “Educational Tech will be Hot.” (http://www.civic.com)
2.3 Catatan Kaki
2.3.1 Pengertian Catatan
Kaki
Menurut (Widjono H.S, 2012) catatan kaki adalah
keterangan atas teks karangan yang ditempatkan pada kaki halaman yang
bersangkutan (Gorys Keraf, 1994:1993). Catatan kaki dapat berupa rujukan bahan
penulisan yang dijadikan sumber dan dapat pula berupa keterangan tambahan.
2.3.2 Fungsi Catatan Kaki
A.
Catatan kaki yang berupa referensi
1)
Fungsi Akademis
a.
Memberikan dukungan argumentasi atau pembuktian.
b.
Rujukan kutipan naskah.
c.
Memperluas makna informasi bahasan dalam naskah.
d.
Penunjukan adanya bagian lain dalam naskah yang
dapat ditelusuri kebenaran faktanya.
e.
Menunjukkan objektivitas kualitas karangan.
f.
Memudahkan penilaian sumber data.
g.
Memudahkan pembedaan data pustaka dan keterangan
tambahan.
h.
Mencegah pengulangan penulisan data pustaka.
i.
Memudahkan peninjauan kembali penggunaan
referensi.
j.
Memudahkan penyuntingan data pustaka.
k.
Menunjukkan kualitas kecerdasan akademis
penulisannya.
2)
Fungsi etika
a.
Pengakuan dan penghargaan kepada penulis sumber
informasi.
b.
Menunjukkan kualitas ilmiah yang lebih tinggi.
c.
Menunjukkan kecermatan yang lebih akurat.
d.
Menujukkan etika dan kejujuran intelektual,
bukan plagiat.
e.
Menunjukkan kesantunan akademis pribadi
penulisannya.
3)
Fungsi estetika
a.
Mempertinggi nilai keindahan perwajahan
(halaman).
b.
Membentuk variasi format penulisan.
c.
Memberikan kesan dinamis sehngga lebih menarik.
d.
Menyenangkan pembacanya.
2.3.3 Penulisan Catatan
Kaki
1)
Catatan kaki dipisahkan tiga spasi dari naskah
halaman yang sama.
2)
Antar catatan kaki dipisahkan dengan satu spasi.
3)
Catatan kaki lebih dari dua baris diketik dengan
satu spasi.
4)
Catatan kaki diketik sejajar dengan margin.
5)
Catatan kaki jenis karangan ilmiah formal,
diberi nomor urut mulai dari nomor satu untuk catatan kaki pertama pada awal
bab berlanjut sampai dengan akhir bab. Pada setiap awal bab berikutnya catatan
kaki dimulai dari nomor satu. Laporan atau karangan tanpa bab, misalnya esai,
catatan kaki ditulis pada akhir karangan.
6)
Nomor urut angka arab dan tidak diberi tanda apa
pun.
7)
Nomor urut ditulis lebih kecil dari huruf
lainnya.
Catatan kaki yang merupakan rujukan atau
data pustaka ditulis berdasarkan cara berikut ini:
1)
Nama pengarang tanpa dibalik urutan atau sama
dengan nama pengarang yang tertulis pada buku diikuti tanda koma (,).
2)
Gelar akademis nama pengarang tidak dicantumkan
pada catatan kaki.
3)
Judul karangan, buku yang diterbitkan dengan
ISBN, dicetak miring, diikuti koma.
4)
Kota penerbit, nama penerbit dan angka tahun
terbit diapit tanda kurung diikuti tanda koma.
5)
Nomor halaman dapat disingkat hlm atau h. angka nomor halaman diakhiri tanda titik (.). penggunaan
singkatan hlm. atau h. dilakukan secara konsisten, pilih
salah satu.
Contoh:
1
Utami Munandar , Pengembangan Kreatifitas
Anak Berbakat, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 107.
2 Judianti G.
Isakayoga dkk., MEMAHAMI HAM dengan Lebih
Baik, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2011), hlm. 4.
3 Edy Suranto dan Ali Kusnanto, Matematika: Kelompok Sosial, Administrasi
Perkantoran, dan Akuntansi, (Jakarta: Yudhistira, 2011) hlm. 64.
2.3.4 Ibid.,
op.cit. dan loc.cit
Ibid., op.cit. dan loc.cit merupakan singkatan yang
digunakan untuk memendekkan penulisan informasi pustaka dalam catatan kaki.
Penulisan harus memperhatikan persyaratan baku yang sudah lazim.
1)
Ibid.
Ibid merupakan singkatan dari ibiddem berarti di
tempat yang dengan di atasnya. Ibid adalah catatan kaki yang digunakan untuk
menyebutkan sumber referensi yang sama persis dengan sumber referensi
sebelumnya dan berbeda halaman. Ibid ditulis di bawah catatan kaki yang
mendahuluinya dan diketik atau ditulis dengan huruf kapital pada awal kata, di
cetak miring, diikuti halaman dan diakhiri titik. Apabila referensi berikutnya
berasal dari jilid atau halaman lain, urutan penulisan: Ibid, tanda koma,
jilid, halaman.
Contoh:
1 Tukiran Taniredja dkk., PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN Paradigma Terbaru untuk Mahasiswa, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 144.
2Ibid.,
hlm. 150.
2)
Op.Cit.(Opere Citato)
Op.cit merupakan singkatan dari opera citato berarti dalam karya yang telah disebut.
Op.cit adalah catatan kaki yang
digunakan untuk menunjukkan sumber referensi yang sama yang telah diselingi
oleh sumber referensi lain, dan dari halaman yang berbeda. Op.cit itulis dengan huruf kapital pada awal suku kata, dicetak
miring, setiap suku diikuti titik. Urutan penulisan: nama pengarang, op.cit.,halaman.
Contoh:
1
Winarno, Paradigma Baru Pendidikan
Kewarganegaraan Panduan Kuliah di Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2008), hlm. 134-135.
2 Judianti
G. Isakayoga dkk., MEMAHAMI HAM dengan
Lebih Baik, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2011), hlm. 4.
3
Hamid Darmadi, Pengantar
Pendidikan Kewarganegaraan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 89-90.
4
Winarno, op.cit., hlm. 120.
3)
Loc.Cit
(loco Citato)
Loc.cit
merupakan singkatan Loco Citato, berarti di tempat yang telah disebutkan
loc.cit
merupakan catatan kaki yang merujuk sumber data pustaka yang sama yang berupa
buku kumpulan esai, jurnal, ensiklopedi, atau majalah; dan telah dikelilingi
sumber lain dan bersumber dari halaman yang sama.
Contoh:
1
Henry Tarigan, Menulis Sebagai Suatu
Aspek Keterampilan Berbahasa, (Jakarta: Gramedia, 1988), hlm. 91.
2
JS. Badudu, Cakrawala Bahasa Indonesia,
(Jakarta, Gramedia, 1994), hlm. 57.
3
Henry Tarigan, loc.cit.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1.
Kutipan adalah salinan
kalimat, paragraf, atau pendapat dari seorang pengarang terkenal yang didapat
dari sumber tertentu dan dimasukkan dalam teks karya tulis.
2.
Tata cara penulisan
kutipan itu ada 3, yaitu kutipan langsung, kutipan tidak langsung dan kutipan
dengan endnote.
3.
Daftar
rujukan/bibliografi adalah daftar yang mencantumkan semua dokumen, judul
buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang menjadi rujukan dalam tulisan karya
ilmiah.
4. Urutan
penulisan daftar rujukan/bibliografi pada umumnya yaitu nama penulis atau nama
editor, tahun terbit, judul buku, jurnal, artikel, tempat atau kota penerbit,
nama penerbit.
5. Catatan
kaki adalah keterangan atas teks karangan yang ditempatkan pada kaki halaman
yang bersangkutan (Gorys Keraf, 1994:1993). Catatan kaki dapat berupa rujukan
bahan penulisan yang dijadikan sumber dan dapat pula berupa keterangan
tambahan.
6.
Cara penulisan catatan kaki yaitu:
a.
Catatan kaki dipisahkan tiga spasi dari naskah
halaman yang sama.
b.
Antar catatan kaki dipisahkan dengan satu spasi.
c.
Catatan kaki lebih dari dua baris diketik dengan
satu spasi.
d.
Catatan kaki diketik sejajar dengan margin.
e.
Catatan kaki jenis karangan ilmiah formal,
diberi nomor urut mulai dari nomor satu untuk catatan kaki pertama pada awal
bab berlanjut sampai dengan akhir bab. Pada setiap awal bab berikutnya catatan
kaki dimulai dari nomor satu. Laporan atau karangan tanpa bab, misalnya esai,
catatan kaki ditulis pada akhir karangan.
f.
Nomor urut angka arab dan tidak diberi tanda apa
pun.
g.
Nomor urut ditulis lebih kecil dari huruf
lainnya.
3.2. Saran
Penulisan
kutipan, daftar rujukan/bibliografi dan catatan kaki disarankan agar lebih
memerhatikan kaidah penulisan yang baik dan benar sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Hs., Widjono 2012. Bahasa
Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta : PT Gramedia
Widiasarana Indonesia
Sumarta.,
Karsinem (2014). Bahasa Indonesia Umum. Pekanbaru : Universitas Islam Riau






