1.
Definisi
Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Banyak anak
terlahir normal sehingga
orang tua relatif mudah dalam mengasuh dan mendidik mereka. Akan tetapi, pada
kenyataaannya ada anak terlahir berkelainan sehingga membutuhkan perhatian khusus. Anak
seperti ini dianggap oleh masyarakat sebagai tidak normal. Perkembangan anak
ini tidak sama dengan perkembangan anak sebayanya apakah secara fisik atau pun
secara mental, atau keduanya. Anak yang mempunyai kelainan tubuh belum tentu
mempunyai kelainan mental. Akan tetapi, apabila seorang anak mempunyai kelainan
mental biasanya dia mempunyai kelainan tubuh yang mempunyai ciri khas terutama
anak dengan sindroma Down. Misalnya, tubuhnya lebih pendek, matanya
bertipe mongoloid, lidahnya lebih penjang, kepalanya lebih kecil dibandingkan
dengan anak sebayanya. Kelainan fisik ini akibat adanya ekstra kromosom pada
pasangan kromosom ke-21atau disebut trisomi 21. Akan tetapi, banyak pula
anak berkelaian yang tubuhnya normal seperti
anak sebayanya. Misalnya anak yang mempunyai masalah belajar, masalah bicara,
hiperaktif, intelegensi yang dibawah normal, menderita autisme, ataupun
menderita psikotik. Jadi, sesunggguhnya arti anak yang berkelainan dapat
bermaca-macam. Istilah yang terkesan lebih manusiawi adalah anak yang berkebutuhan khusus.
Selanjutnya
Haring (1982) membuat kategori anak berkelainan sebagai berikut:
1.
Cacat pengindraan,
misalnya kerusakan pendengaran atau penglihatan.
2.
Penyimpangan mental,
termasuk di dalamnya yang sangat berbakat ataupun yang terbelakang mentalnya.
3.
Gangguan komunikasi,
misalnya masalah-masalah bicara dan bahasa.
4.
Ketidakmampuan
belajar, yaitu masalah-masalah belajar yang serius akan tetapi tanpa adanya secara fisik.
5.
Gangguan peerilaku,
termasuk di dalamnya masalah emosi.
6.
Cacat fisik dan
kesulitan dalam kesehatan, seperti kerusakan neurologis, konidi-kondisi
ortopedik, penyakit seperti leukemia dan anemia karena sel-sel yang sakit,
cacat bawaan, dan ketidakmampuan dalam perkembangan.
Tidak jauh
berbeda dengan Haring (1982), Telford dan Sawrey (1981) juga mengelompokkan
anak berkelainan dan memasukkan anak yang sangat berbakat di dalamnya. Mereka
mengklasifikasikan individu berkelainan berdasarkan bidang penyimpangan primer,
yaitu:
1.
Penyimpangan
intelektual dan akademik.
2.
Penyimpangan
pengindraan.
3.
Penyimpangan motor.
4.
Penyimpangan perilaku
dan kepribadian.
5.
Penyimpangan sosial.
Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah bentuk ketidakmampuan anak yang
ciri-cirinya antara lain, (1) kurang perhatian, (2) hiperaktif, dan (3) impulsif. Anak yang kurang perhatian (inattentive) sulit berkonsentrasi pada
satu hal dan mungkin cepat bosan mengerjakan tugas. Anak hiperaktif menunjukkan
level aktivitas fisik yang tinggi, hampir selalu bergerak. Anak impulsif sulit
mengendalikan reaksinya dan gampang bertindak tanpa pikir panjang . anak yang
menunjukkan gejala ADHD bisa didiagnosis sebagai, (1) ADHD dengan kecenderungan
lebih pada kurang perhatian, (2) ADHD dengan kecenderungan lebih pada
hiperaktif/impulsif, atau (3) ADHD dengan kecenderungan baik itu kurang
perhatian maupun hiperaktif/impulsif.
Tanda-tanda ADHD dapat
muncul sejak usia prasekolah. Orang tua dan guru prasekolah (kelompok bermain)
dan taman kanak-kanak mungkin mengetahui bahwa ada anak yang sangat aktif dan
konsentrasinya kurang. Mereka mungkin mengetahui bahwa ada anak yang sangat
aktif dan konsentrasinya kurang. Mereka mungkin mengatakan anak itu `tidak bisa
diam`, `tidak bisa duduk barang sedetik saja`, atau `kelihatannya tak pernah
mendengarkan orang bicara`. Banyak anak dengan ADHD sulit diatur, kurang
toleransi terhadap rasa frustasi, dan punya banyak masalah dalam berhubungan
dengan teman sebaya. Karakteristik umum lainnya adalah ketidakdewasaan dan dekil.
Meskipun
tanda-tanda ADHD sering kali muncul sejak usia prasekolah, namun sering kali
mereka baru ketahuan saat usia SD (Guyer, 2000). Meningkatnya tuntutan akademik
dan sosial dalam sekolah formal, dan standar yang lebih ketat untuk kontrol
perilaku, sering kali akan mengungkapkan adanya peoblem ADHD dalam diri anak
(Whalen, 2000). Guru sekolah dasar biasanya melaporkan bahwa jenis anak ini
sulit beker ja secara independen, mengerjakan tugas, dan mengelola tugas.
Mereka sering tampak selalu ribut dan tidak fokus. Problem ini lebih mungkin
terlihat ketika mereka diberi tugas yang berulang-ulang, atau tugas yang
dianggap anak menjemukan (seperti mengisi daftar atau mengerjakan PR). Problem
ADHD dahulu dianggap akan berkurang saat anak masuk kerja, tetapi kini diyakini
bahwa hal itu jarang terjadi. Perkiraan menunjukkan bahwa ADHD hanya menurun
sekitar sepertiga dimasa remaja. Problem ini bahkan terus
berlanjut hingga masa dewasa.
Diperkirakan 85
sampai 90 persen anak penderita ADHD menggunakan obat stimulan seperti Ritalin
untuk mengendalikan perilakunya (Tousignant, 1995). Seorang anak seharusnya
diberi obat hanya setelah dinilai secara lengkap yang mencakup penilain
fisiknya. Biasanya diberi dosis kecil untuk menguji efeknya. Jika anak
menoleransi dosis kecil, maka dosisnya bisa ditambah. Para periset menemukan
bahwa kombinasi obat dan manajemen perilaku bisa memperbaiki perilaku anak dengan ADHD secara lebih baik
ketimbang hanya dengan menggunkan obat saja atau manajemen perilaku saja
(Swanson & Volkov, 2002, Swanson, dkk., 2001). Tidak semua anak ADHD
merespons positif terhadap stimulan, dan beberapa pengkritik mengatakan bahwa
dokter terlalu tergesa-gesa memberikan resep stimulan untuk anak dengan ADHD
ringan (Clay,1997). Guru memainkan peran penting dalam mengamati apakah obat
yang diberikan terlalu keras sehingga menyebabkan anak mengalami pusing atau
alergi. Terkadang guru, terutama di SD, memberikan obat jika dibutuhkan pada
saat jam belajar. Adalah penting bagi guru dan orang tua untuk tidak memberikan
peasan kepada anak bahwa obat itu adalah jawaban untuk semua kesulitan akademik
mereka (Hallahan & Kauffman, 2000). Selain diberi obat, anak dengan ADHD
harus diajak untuk bertanggung jawab atas perilaku mereka.
Hampir semua siswa
pernah bersikap tidak perhatian, hiperaktif, dan impulsif. Namun mereka
mengalami Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) biasanya memperlihatkan kekurangan luar biasa
dalam area-area ini, sebagaimana tercermin dalam kriteria-kriteria berikut ini
(American Psychiatric Association, 1994; Barkley, 1998):
·
Tidak perhatian (inattentionI) siswa mengalami kesulitan
memusatkan dan mempertahankan perhatian terhadap tugas yang diberikan. Mereka
juga mengalami masalah mendengarkan dan mengikuti arahan, membuat kesalahan
yang ceroboh berulang kali, dan perhatiannya mudah beralih ke
aktivitas-aktivitas lain yang menarik.
·
Hiperaktif (hyperactivity) siswa tampak memiliki energi yang besar sekali.
Mereka mudah gelisah, lalu-lalang dikelas pada saat yang tidak tepat, atau
sulit bekerja atau bermain dengan lebih tenang.
·
Impulsh (impulsivity) siswa mengalami kesulitan mencegah prilaku yang tidak
sesuai. Mereka berkata-kata tanpa berpikir terlebih dahulu, mulai mengerjakan
tugas terlalu dini, atau terlibat dalam prilaku yang berisiko atau destruktif
tanpa mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensinya.
Siswa yang mengalami
ADHD tidak harus selalu memperlihatkan ketiga karakterisik ini sekaligus.
Sebagai contoh, beberapa diantara mereka bersikap tidak perhatian namun tidak
hiperaktif, seperti kasus Tim. Namun semua siswa yang mengalami ADHD agaknya
memiliki sebuah karakteristik yang sama tidak
mampu menahan pikiran atau tindakan yang tidak sesuai, atau kedua-duanya (Barkley,
1998; Casey. 2001). Tim, misalnya, mudah sekali terganggu oleh pikiran-pikirannya
dan lamun-lamunannya ketika ia seharusnya memusatkan perhatian pada pelajaran
dikelas.
ADHD diduga memiliki
asal-usul biologis dan barangkali juga genetis (Barkley, 1998; Purdie, Hattie
& Carroll, 2002; Sabbagh, Xu, Carlson, Moses, & Lee, 2006). Namun, begitu
diidentifikasi mengalami ADHD, banyak siswa dapat dibantu melalui teknik-teknik
dan cara penyembuhan (remediation).
2.
Karakteristik Umum
Selain
sikap tidak perhatian, hiperaktif, dan impulsif, siswa yang diidentifikasi
mengalami ADHD juga memperlihatkan karakteristik-karakteristik berikut ini:
·
Imajinasi
dan kreativitas yang luar biasa
·
Kesulitan
dalam pemrosesan kognitif dan prestasi sekolah yang buruk
·
Masalah
perilaku di kelas (misalnya, suka mengganggu, tidak beraturan)
·
Kesulitan
menafsirkan dan menganalisis berbagai situasi sosial
·
Memperlihatkan
reaksi emosional yang lebih besar (seperti mudah tergugah, sikap bermusuhan)
dalam interaksi dengan teman-teman sebaya
·
Jarang
sekali menjalin hubungan pertemanan; kadang kala mendapat penolakan yang seketika
dari teman-teman sebaya
·
Memiliki
kemungkinan lebih tinggi untuk mengonsumsi tembakau dan alkohol di masa remaja
(Barkley,1998; Gresham & MacMillan, 1997; Grodzinsky & Diamond;1992;
Hallowell,1996; Lahey & Carlson, 1991; Landau & McAninch,1993; E. P. Lorch
et. al., 1999; Milch-Reich et. al., 1999; Whalen, Jamner, Henker, Delfino,
& Lozano, 2002).
Beberapa
siswa yang mengalami ADHD bisa juga mengalami kesulitan belajar atau juga
gangguan emosi atau perilaku, sementara yang lain mungkin berbakat (Barkley,
Conte, 1991; R. E. Reeve,1990). simtom-simtom yang berkaitan dengan ADHD bisa
berkurang di masa remaja, tetapi sampai taraf tertentu bertahan selama masa
sekolah, yang membuat siswa kesulitan menangani tuntutan yang semakin meningkat
untuk berperilaku mandiri selama masa sekolah, yang membuat siswa kesulitan
menangani tuntutan yang semakin meningkat untuk berperilaku mandiri dan
bertanggung jawab di sekolah (Barkley, 1998, Claude & Firestone, 1995; E.L.
Hart, Lahey, Loeber; Applegate & Frick, 1995). Karenanya, siswa yang
mengalami ADHD memiliki risiko lebih tinggi untuk putus sekolah dibandingkan
siswa-siswa yang normal (Barkley, 1998).
Mengadaptasi
Instruksi para peneliti dan praktisi menawarkan beberapa saran untuk membantu
siswa yang mengalami ADHD:
·
Modifikasilah
jadwal siswa dang lingkungan kerja
Simtom-simtom ADHD cenderung memburuk dari hari
ke hari. Mak, idealnya, siswa mendapat mata pelajaran dan tugas-tugas yang
sulit dikerjakan di pagi hari, bukan di sore
hari. Selain itu, jauhkan meja siswa dari distraksi (misalnya, jauhkan
dari pintu dan jendela, namun jangan terlalu dekat dengan kawan sekelas) dan
dekatkan tempat duduknya dengan guru sehingga guru dapat memonitor,
meningkatkan atensi, dsn prestasi mereka (Barkley, 1998).
·
Ajarkan
strategi mempertahankan atensi
Siswa yang mengalami ADHD seringkali terbantu
apabila mempelajari strategi-strategi konkret untuk mempertahankan atensinya
pada tugas yang diberikan (Buchoff, 1990). Sebagai contoh, meminta mereka untuk
tetap mengarahkan pandangannya ke kita ketika kita memberikan arahan dan
memberikan informasi baru. Kita juga dapat mendorong mereka berpindah ke tempat
duduk baru apabila mereka banyak mengalami distraksi pandangan dan pendengaran
di tempat duduk yang sedang ditempati.
·
Berikan
wadah bagi mereka untuk menyalurkan energinya yang berlebihan
Untuk membantu siswa agar dapat mengontrrol
energinya yang berlebih, kita menyelingi pekerjaan akademik yang tenang dengan
memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan latihan fisik (Pelleg &
Bohn, 2005; Pfiffner & Barker, 1998). Kita juga dapat memberikan siswa
waktu untuk menenangkan diri sebelum meminta mereka terlibat dalam sebuah
aktivitas yang membutuhkan konsentrasi (Pelleg & Horvart, 1995).
·
Bantulah
siswa mengelola dan menggunakan waktunya secara efektif
Oleh karena
karakteristik mereka yang tidak perhatian dan hiperaktif, siswa ADHD seringkali
mengalami kesulitan menyelesaikan tugas-tugas harian di kelas. Kita dapat
menunjukkan kepada mereka bagaimana
membuat daftar tugas-tugas yang harus dikerjakan dan membuat jadwal harian yang
ditempatkan di atas meja belajar mereka. Kita juga dapat memecah tugas-tugas
besar menjadi lebih sederhana (subtugas) dan menetapkan waktu yang pendek untuk
setiap subtugas tersebut. Dan kita juga dapat menyediakan sebuah folder di dalamnya siswa mengirimkan
tugas-tugas PR ke dan dari sekolah
(Buchoff, 1990; Pfiffner & Barkley, 1998).
Ormnrod,
Jeanne Elli. 2008. Psikologi Pendidikan
Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang diterjemahkan oleh Wahyu Indianti,
dkk. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Uno,
Hamzah B, dan Masri Kudrat Umar. 2014. Mengelola
Kecerdasan Dalam Pembelajaran: Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Yaumi,
Muhammad. 2012. Pembelajaran Berbasis
Multiple Intelligences. Jakarta: Dian Rakyat.







0 komentar:
Posting Komentar