BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Akhlak Mazmudah (Terpuji)
Akhlak Mahmudah (terpuji) adalah
perbuatan yang dibenarkan oleh agama (Allah dan Rasul-Nya). Akhlak yang mulia
yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak yang baik itu dapat diwujudkan
dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala
perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah
Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang
munkar, seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 yang artinya “Kamu adalah
umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang
mungkar dan beriman kepada Allah”.
Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah
penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah SWT.
Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa
itu kekal selama berakhlak. Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah
bangsa itu". Contoh akhlak Mahmudah yaitu: ikhlas, amanah, syukur,
adil, disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun, rendah hati, jujur, rajin,
percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan
patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh
pendirian, dermawan, optimis, qana’ah, dan tawakal, ber-tauhiid, ikhlaas,
khauf, taubat, ikhtiyaar, shabar, syukur, tawaadu', husnuzh-zhan, tasaamuh dan sebagainya
2.2 Contoh Akhlak Mazmudah (Terpuji)
Dalam pembahasan ini penulis akan
menjabarkan akhlak mahmudah yang meliputi ikhlas, sabar, syukur, jujur, adil
dan amanah dan rasa malu.
1.
Ikhlas
Kata ikhlas mempunyai beberapa pengertian. Menurut al-Qurtubi, ikhlas
pada dasarnya berarti memurnikan perbuatan dari pengaruh-pengaruh makhluk. Abu
Al-Qasim Al-Qusyairi mengemukakan arti ikhlas dengan menampilkan sebuah riwayat
dari Nabi Saw, “Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril
berkata, “Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah,” lalu Allah berfirman,
“(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati
orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku.
Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan.
Anggota masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan mencapai kebaikan
lahir-bathin dan dunia-akhirat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai
perpaduan, persaudaraan, perdamaian serta kesejahteraan.
2.
Sabar
Secara
Etimologi Sabar (Ash-shabar) berarti menahan dan mengekang (Al-Habs
Wa Al-Kuf). Secara
terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai
karena mengharap ridha Allah. Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri
dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian,sakit,kelaparan dan
sebagainya, tapi juga nisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini
berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu. Dalam
ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa yang di maksud sabar ialah menahan diri
dalam menanggung suatu penderitaa,baik dalam menemukan sesuatu yan tidak di
ingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.imam Al-ghazali
mengatakan bahwa sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu
yang tumbuhnya atas dorongan ajaran islam.
3.
Syukur
Syukur menurut kamus “Al-mu’jamu
al-wasith” adalah mengakui adanya kenikmatan dan menampakkannya serta memuji
(atas) pemberian nikmat tersebut.Sedangkan makna syukur secara syar’i adalah :
Menggunakan nikmat AllahSWT dalam (ruang lingkup) hal-hal yang dicintainya.
Lawannya syukur adalah kufur. Yaitu dengan cara tidak memanfaatkan nikmat
tersebut, atau menggunakannya pada hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT.
4.
Jujur
Jujur adalah
mengatakan sesuatu apa adanya. Jujur lawannya dusta. Ada pula yang berpendapat
bahwa jujur itu tengah-tengah antara menyembunyikan dan terus terang. Dengan
demikian, jujur berarti keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada.
Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar
atau jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran dapat mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan
mengantarkan kepada surga. Seseorang yang biasa berlaku jujur maka ia disebut
shiddiq (orang yang senantiasa jujur).
5.
Adil
Adil
berarti menempatkan/meletakkan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain
ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil
kepada beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/
pimpinan dan sesama saudara. Nabi Saw bersabda, “Tiga perkara yang
menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika bersendiriaan dan di khalayak
ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah, dan berjimat cermat ketika
susah dan senang; dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa
nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri.” (HR. Abu
Syeikh).
6.
Amanah
Secara bahasa amanah bermakna
al-wafa’ (memenuhi) dan wadi’ah (titipan) sedangkan secara definisi amanah
berarti memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya. Hal ini didasarkan pada
firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا
الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan
kalian untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika
menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan adil…” (QS 4:58).
Dalam ayat lainnya, Allah juga
berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا
الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan
amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua enggan
memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanah
itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh…” (QS. 33:72).
7.
Rasa Malu
Rasa
malu merupakan rem atau pengekang dari segala bentuk kemaksiatan. Sepanjang
rasa malu ini ada terpelihara pada jiwa seseorang maka dirinya akan terjaga
dari segala godaan syetan yang mengajak kepada perbuatan dosa. Dengan memiliki
rasa malu, orang akan terjaga akhlaknya. Oleh karena itu semua agama samawi
mengajarkan kepada umatnya untuk berakhlak mulia yang salah satunya adalah
memlihara rasa malu. Sabda Rosulullah s.a.w, "Sesungguhnya setiap agama
mampunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu," (Riwayat Imam Malik)
Allah
berfirman :
إِنَّ
الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي
النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ
إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari
Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik
ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat?
Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan”. (Fushshilat Ayat: 40).
2.3. Pengertian Akhlak Mazmumah (Tercela)
Akhlak Mazmumah (tercela) adalah
perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama (Allah dan RasulNya). Akhlak yang
buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki,
sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan
penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan
berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di
sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni
kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti
mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah SWT dalam
Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berbunyi:
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum: 41).
Contoh dari akhlak Mazmumah yaitu: hasad,
takabur, ghadab, syirik, riya’, dusta, namiimah, hidup kotor, berbicara
jorok/kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki,
membangkang, munafik, kikir, serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan
murtad, kufur, , nifaaq, anaaniah, putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad,
dendam, giibah, fitnah, dan aniaya dan diskriminasi, perbuatan dosa besar
(seperti mabuk-mabukan, berjudi, zina, mencuri, mengkonsumsi narkoba),
israaf, tabdzir.
2.5. Contoh dari Akhlak Mazmumah (Tercela)
Dalam pembahasan ini penulis akan
menjabarkan akhlak mazmumah yang meliputi riya’, takabur, hasad, ghadab,
namimah, dusta, dan syirik.
1.
Riya’
Secara
Etimologi Kata riya berasal dari kata ru’yah, yang artinya menampakkan.
Dikatakan arar-rajulu, berarti seseorang menampakkan amal shalih agar dilihat
oleh manusia. Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT:
Yang artinya:
“…Orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan
barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun : 6-7).
“… dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada
manusia.” (QS. Al-Anfal : 47).
Secara Terminologi riya’ adalah sikap seorang muslim yang
menampakkan amal shalihnya kepada manusia lain secara langsung agar dirinya
mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan
keuntungan materi.
Rasulullah SAW juga memperingatkan dalam haditsnya:
Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan
sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan
riya. (HR. Bukhari).
2.
Takabur
Takabur artinya : sombong, congkak atau merasa dirinya lebih tinggi dari
orang lain, baik kedudukan, keturunan, kebagusan, petunjuk, dan lain-lain.
Takabur itu terbagi atas 2 macam yaitu :
a.
Takabur batin : yang merupakan pekerti di dalam
hati
b.
Takabur lahir : yang merupakan kelakuan-kelakuan
yang keluar dari anggota badan, kelakuan-kelakuan ini amat banyak sekali
bentuknya dan oleh karena itu sukar untuk dihitung dan diperinci satu persatu.
Jelasnya ialah orang yang
menghinakan saudaranya sesama muslim melihatnya dengan mata ejekan, menganggap
bahwa dirinya lebih baik dari yang lain, suka menolak kebenaran, sedangkan ia
telah mengetahui bahwa itulah yang sesungguhnya benar, maka jelaslah bahwa
orang tersebut dihinggapi penyakit kesombongan dan mengabaikan hak-hak Allah,
tidak
mentaati apa yang diperintahkan
olehnya serta melawan benar-benar pada zat yang maha kuasa.
3.
Hasad
Hasad artinya menaruh perasaan benci, tidak senang yang amat sangat
terhadap keberuntungan atau kenikmatan yang di peroleh. Hasad merupakan akhlak
yang tercela, harus dihindari dalam kehidupan sehari- hari. Wujudnya seperti
memusuhi, menjelek- jelekan, mencemkan nama baik orang lain, dan lain- lain.
Sabda Rasullah “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit – penyakit umat dahulu, (
yaitu ) benci dan dengki. Itulah yng membinasakan agama, buakan sengki mencukur
rambut.” ( Hr. Abu Daud Tirmidzi ).
Hadits diatas menjelaskan apabila manusia apabila manusia saling
mendengki, maka ajaran agama dan segala tatanan hukum tidak akan mengaturnya.
Sehingga Rasulullah SAW mengibaratkan sifat dengki bagaikan api yang membakar
kayu bakar.
Rasulullah SAW menggambarkan buruknya sifat hasad seprti api yang
membakar kayu bakar, sebagia perusak dan penghancur Sendi-sendi agama, artinya
orang bersikap dan berbuat dengki pada dasarnya sama dengan penghancur agama.
Hasad harus dihindari karena merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
4.
Namimah
5.
Namimah atau mengadu domba adalah usah atau
perbuatan seseorang baik berupa ucapan atau perbuatan yang bertujuan mengadu
domba satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain,
dan lain sebagainya.Perbutan namimah adalah perbuatan yang dibenci orang Allah
SWT. Sebagaimana firman-Nya.
وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ- مَهِينٍهَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
“dan janganlah engkau patuhi orang – orang yang suka bersumpah dan
suka menghina , suka mencela, yang kian kemari menyebarkan
fitnah.” (QS. Al Qalam : 10- 11).
Orang yang terbiasa dengan sifat naminah akan slau berbuat kerusakan
dimana pun dan kapanpun, apalagi sifat ini sudah terpatri kuat dalam hati.
Orang – orang seperti akan selsu menggunakn siasat buruknya untuk kepentingan
pribadinya. Selain itu, ia akan selalu mencela orang lain dengan kesana kemari
menyebar fitnah, mereka adalah orang yang selalu bersama – sama berada ditengah
– tengah dengan tujuan untuk menghasut, membuat huru – hara, dan kerusakan .
6.
Dusta
Dusta adalah suatu perilaku yang berbentuk ucapan atau perbuatan,
baik yang tampak atau yang tersembunyi, yang bertentangan dengan syari’at
dan fithroh yang suci. Orang yang suka berdusta
kalau dia tidak bertaubat dari perbuatannya yang suka berdusta itu maka
kejelekannya akan menghiasi dirinya, syaithon akan terus menyertainya. Tidaklah kita
melihat para pendusta yang terus menerus larut di dalam sifat
dustanya melainkan dia akan tersesat dan menyimpang dari kebenaran, hal
demikian itu karena kecondongannya kepada berbuat dusta maka Allah pun
memalingkannya kepada apa yang dia condongi dari berbuat dusta itu:
“Maka tatkala
mereka berpaling maka Alloh pun palingkan hati-hati mereka”.
7.
Syirik
Syirik
merupakan akhlak tercela kepada Allah Swt nan boleh dibilang menduakan Allah
Swt. Syirik dalam ajaran Islam dimaksudkan dengan menyekutukan Allah Swt dengan
sesuatu zat, sifat, dan af’alnya. Perbuatan syirik ini hukumnya haram sebab
mampu membatalkan iman seseorang, mencemarkan kesucian agama Islam, dan nan
terpenting menafikan kekuasaan Allah Swt. Munculnya sifat syirik pada diri
manusia dikarenakan kurangnya pengetahuan agama, sehingga keimanannya
berkurang. Ketika ada sebuah kekuatan nan lebih besar dari dirinya akan
langsung memuja kekuatan tersebut tanpa mengetahui bahwa kekuatan tersebut
semata-mata datangnya dari Allah Swt. Pada akhirnya, dia akan menduakan
keimanannya dan mempercayai kekuatan selain kekuatan Allah Swt. Menurut
jenisnya, syirik terbagi ke dalam dua jenis, yaitu syirik Jali dan syirik
Khafi.
2.6. Cara Mencegah Akhlak Mazmumah (Tercela)
Perilaku tercela adalah kebalikan
dari perilaku terpuji. Jika perilaku terpuji adalah segala kelakuan dan
perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam, maka perilaku tercela adalah segala
perilaku yang diperbuat tidak sesuai dengan ajaran agama. Sebagai seorang
Muslim tentunya kita diharapkan untuk berperilaku yang sesuai dengan ajaran
agama yaitu perilaku terpuji.
Orang yang berperilaku tercela
tidak saja akan termasuk kepada perbuatan yang sia – sia dan tergolong dalam
orang yang memiliki penyakit hati, namun juga akan menjadi sebuah perbuatan
dosa baginya. Islam selalu menganjurkan untuk memiliki perilaku yang terpuji
yang baik untuk diri sendiri dan untuk pergaulan sesama Muslim untuk menjaga
dan memelihara kerukunan sesama umat.
Semua perilaku tercela ini timbul
karena seseorang memiliki penyakit hati dan tidak terbiasa mencari cara bersikap tenang dalam
menghadapi segala hal yang terjadi dalam kehidupannya. Ancaman terbesar dari
penyakit hati yang tercela ini adalah tidak akan bisa masuk surga. Oleh karena
itu, cara menghindari perilaku tercela harus dilakukan, seperti beberapa hal
berikut ini yaitu:
1.
Perbanyak beribadah
Tingkatkan ibadah kepada Allah SWT. Tujuan hidup
dalam Islam adalah untuk beribadah kepada Allah, karena manusia adalah
makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Maka usahakan
untuk meningkatkan ibadah kita agar dapat menjadi cara
menjadi pribadi yang baik dan Islami, dan menghindari semua perilaku
tecela tersebut.
2.
Biasakan berbagi
Orang yang egois adalah orang yang tidak terbiasa berbagi. Maka, cara
menghilangkan sifat egois adalah dengan membiasakan diri berbagi
dengan sesama, dimulai dari keluarga dan teman dekat. Lakukan semuanya dengan
hati ikhlas dan karena ingin membantu orang lain serta berbagi kebahagiaan
bersama.
3.
Selalu bersyukur atas nikmat Allah
Dalam hidup, karunia Allah bisa datang dalam bentuk apa saja. Orang yang
mempunyai perilaku tercela tidak bisa merasakan karunia yang diberikan
kepadanya, dan selalu merasa kurang. Biasakan untuk mengucap syukur atas segala
kejadian baik yang kita alami, sekecil apapun itu. Bersyukur adalah cara
merubah diri menjadi lebih baik dan terhindar dari perilaku yang
tercela.
4.
Pahami keterbatasan manusia
Manusia hanya makhluk yang sangat kecil dalam alam semesta ini. Tidak ada
gunanya bersikap angkuh, sombong dan tinggi hati. Sebagai manusia kita punya
banyak kekurangan yang nyata di hadapan kekuasaan Allah yang begitu besar.
Sadarilah hal itu sebagai cara
menghindari sifat takabur dan cara
menghilangkan sifat angkuh dan sombong.
5.
Jaga tali silaturahmi
Menghilangkan
perilaku tercela bisa dengan menjalin tali silaturahmi yang baik dengan sesama
muslim. Jika kita memiliki silaturahmi yang terjalin baik. tentunya tidak akan
mudah bagi kita untuk merasa iri dengki, bersikap egois, bergunjing dan
emosional, bahkan mengadu domba. Jika memiliki hubungan baik dengan orang lain
dalam pergaulan, hal itu dapat menjadi cara
menjaga kesehatan hati agar tidak dikotori perasaan buruk.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Akhlak Mahmudah (terpuji) adalah
perbuatan yang dibenarkan oleh agama (Allah dan Rasul-Nya). Akhlak yang mulia
yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak yang baik itu dapat diwujudkan
dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya
dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah
Rasulullah. Contoh akhlak Mahmudah yaitu: ikhlas, amanah, syukur, adil, disiplin,
hidup bersih, ramah, sopan-santun, rendah hati, jujur, rajin dan sebagainya.
Akhlak Mazmumah (tercela) adalah
perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama (Allah dan RasulNya). Akhlak yang
buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki,
sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan
penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan
berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di
sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya. Contoh dari akhlak Mazmumah
yaitu: hasad, takabur, ghadab, syirik, riya’, dusta, namiimah, hidup kotor,
berbicara jorok/kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki,
membangkang, munafik.
3.2. Saran
Islam selalu menganjurkan untuk
memiliki perilaku yang terpuji yang baik untuk diri sendiri dan untuk pergaulan
sesama Muslim untuk menjaga dan memelihara kerukunan sesama umat. Oleh karena
itu, cara menghindari perilaku tercela harus dilakukan, seperti beberapa hal
yaitu: perbanyak ibadah, biasakan berbagi, bersyukur atas nikmat Allah, pahami
keterbatasan manusia, jaga tali silaturahmi.







0 komentar:
Posting Komentar