A. Kriteria Penggunaan Strategi Pembelajaran dan Metode Pembelajaran
Proses belajar
mengajar yang baik harus memiliki dan memenuhi sejumlah kriteria, antara lain:
a.
Memiliki
tingkat relvansi epistemologis yang tinggi, artinya proses belajar yang
dilakukan peserta didik relevan dengan hakikat ilmu yang sedang dipelajari
peserta didik.
b.
Memiliki
tingkat relevansi psikologis. Dalam hal ini ilmu dipandang sebagai alat
berfikir. Makin tinggi kadar berfikir
siswa didalam kagiatan belajar, makin berkualitas proses belajar mengajar
tersebut.
c.
Memiliki
tingkat relevansi sosiologis. Kriteria ini dilihat dari segi kesempatan peserta
didik menghayati nilai-nilai sosial. Di dalam proses belajar mengajar yang
memberi kesempatan kepada peserta didik menghayati nilai-nilai sosial, seperti:
saling menghargai pendapat, bekerja sama, dan sejenisnya, maka dilihat dari
kriteria ini proses tersebut cukup baik.
d.
Memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara optimal. Proses
belajar mengajar yang terlalu didominasi oleh guru dinilai tidak baik.
e.
Memiliki
tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi. Hal ini dilihat dari tingkat
pencapaian tujuan yang optimal dan komprehensif serta denga sumber daya yang
relatif hemat.
1.
Strategi
Pembelajaran
(Syaiful Bahri Djamarah, 2010:5) Secara umum strategi mempunyai
suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang
telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan
sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan
belajar mengajarr untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi
hal-hal berikut:
a.
Mengidentifikasi
serta menetapkan spesifiksi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan
kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
b.
Memilih
sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup
masyarakat.
c.
Memilih
dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap
paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam
menunaikan kegiatan mengajarnya.
d.
Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan
atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh
guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya
akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang
bersangkutan secara keseluruhan.
Dari uraian di
atas tergambar bahwa ada empat masalah
pokok yang sangat penting yang dapat dan harus dijadikan pedoman buat
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar berhasil sesuai dengan yang
diharapkan.
Pertama, spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana
diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan itu. Disini terlihat
apa yang terjadi sebagai sasaran dari kegiatan belajar mengajar. Sasaran yang
dituju harus jelas dan terarah. Oleh karena
itu, tujuan pengajaran yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah
dipahami oleh anak didik.
Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling
tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Bagaimana cara guru memandang sesuatu
persoalan, konsep, pengertian dan teori apa yang guru gunakan dalam memecahkan
suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya. Satu masalah yang dipelajari oleh dua
orang dengan pendekatan yang berbeda, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan
yang tidak sama.
Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar
mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode atau teknik penyajian
untuk memotivikasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan
pengalamannya untuk memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode supaya
anak didik terdorong dan mampu berpikir bebas dan cukup keberanian untuk
mengemukakan pendapatnya sendiri.
Keempat, menerapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru
mempunyai pengangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh
mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya. Suatu program baru bisa
diketahui keberhaasilannya, setelah
dilakukan evaluasi. Sistem penilaian dalam kegiatan belajar mengajar merupakan
salah satu strategi yang tidak bisa dipisahkan dengan strategi dasar yang lain.
2.
Metode
Pembelajaran
(Djamarah, 2010:46) Metode adalah cara yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan
belajar mengajar, metode diperlukan oleh oleh guru dan penggunaanya bervariasi
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran yang berakhir.
Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak mengasai
satu pun metode mengajar yang dirrumuskan dan dikemukakan pada ahli psikologi
dan pendidikan.
Prof. Dr. Winarno surakhmad, M. Sc. Ed., mengemukakan lima macam
faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar sebagai berikut.
a.
Tujuan
yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya.
b.
Anak
didik yang berbagai-bagai tingkat kematangannya.
c.
Situasi
yang berbagai-bagai keadaannya .
d.
Fasilitas
yang berbagai-bagai kuallitas dan kuantitasnya..
e.
Pribadi
guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
Dalam praktik pelaksanaan metode pembelajaran yang berpusat kepada
guru, untuk mengurangikesan otoritas guru, patut diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1.
Pada
tahap persiapan, sebelum pembelajaran dimulai perlu dikondisikan oleh guru
untuk
a.
Menciptakan
lingkungan pembelajaran yang nyaman, yang tidak ada kesan yang mengungkung
siswa.
b.
Mempersiapkan
peluangkan untuk berlangsungnya pembelajaran aktif, guru tidak terkesan terlalu
mendominasi.
c.
Akomodasikan
adanya gaya belajar yang berbeda-beda.
2.
Pada
saat berlangsungnya pembelajaran, perlu dilakukan oleh guru utuk berupaya
a.
Selalu
berinteraksi dengan para siswa.
b.
Menunjukkan
minat yang besar kepada subjek pembelajaran.
c.
Menyampaikan
kepada siswa secara jelas apa tujuan pembelajaran, pokok bahasan apa yang akan
dibahas dan apa kaitannya dengan seluruh materi bidang studi.
d.
Menunjukkan
penghargaan kepada, minat yang besar kepada, semua gagasan dan pertanyaan
siswa.
3.
Pada
akhir pembelajaran jangan lupa melakukan refleksi.
Berbagai metode
tentang yang dapat diterapkan dalam berbagai jenis bidang studi dan berbagai
situasi pembelajaran. Berbagai metode itu antara lain adalah sebagai berikut:
1.
Metode
ceramah
Metode
ceramah adalah metode yang dilakukan dengan pemberian informasi secara
lisan/verbal dari seseorang pembicara didepan sekelompok pengunjung. Dalam
pembelajaran tentu saja pembicara disini adalah seorang guru, sedangkan
pengunjungnya adalah peserta didik. Bisanya metode ceramah diterapkan jika
tujuan pokok pembelajaran memang memberikan infomasi. Metode ceramah akan
efektif bila peserta didik sudah termotivikasi, oleh sebab itu guru harus membuat
semacam prokondisi agar siswa duduk tenang dahulu sebelum ceramah berlangsung.
Metode
ceramah juga akan efektif bila guru ingin menambah atau memberi pemekanan
terhadap materi yang sudah dipelajari dengan menggunakan metode yang lain.
Metode ceramah juga amat efektif pada saat guru melaksanakan apersepsi pada
pembukaan pembelajaran atau melaksanakan refleksi pada akhir pembelajaran.
Tersirat pada penjelasaan itu bahwa metode ceramah akan efektif apabila durasi
ceramah tidak terlalu panjang misal antara 10-15 menit saja, hal ini terkait
dengan kemampuan mengingat para pendengar ceramah.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pelaksaan metode ceramah, sebagai
berikut:
1.
Persiapkan
pembelajaran sehingga dapat berangsung ceramah yang lancar dan baik.
2.
Selidiki
apakah metode ceramah merupakan metode yang dapat disituasi pembelajaran
tersebut, baik materinya, maupun pendenngarnya dan sebagainya.
3.
Persiakan
catatan kecil tentag materi apa saja yang akan diceramahkan.
4.
Saat
ceramah berlangsung berbicara dengan jelas dan runtut, jangan seperti orang
yang sedang berpidato, tetap berusaha berkeliling kelas, dan atur sikap tubuh
sedemikian rupa agar memperoleh perrhatian murid.
5.
Bila
mengajukan pertanyaaan jangan takut jika kelas menjadi hening, ini menunjukan perhatian
siswa.
2.
Metode
tanya jawab/pertanyaan terarah
Gordon
Pask (dalam Suyono dan Hariyanto, 2015: 97 ) dalam publikasinya berjudul Conversation
Theory, Application in Education and Epitemology, menyakan bahwa melalui
interaksi percakapan termasuk tentu saja tanya jawab antara guru dengan murid,
antara dosen dengan mahasiswa, akan terjadi kontruksi pengetahuan atau proses
untuk tahu (knowing). Teori
percakapan dari Pask inilah yang kemudian mengembangkan teori pembelajaran
sibernetika. Pask adalah seorang konstruktivis.
Berikut
adalah hal-hal yang terkait dengan asking question better, tersebut.
a.
Strategi
umum dalam bertanya:
-
Bila
merencanakan pelaksanaan mettode tanya jawab selalu ingatlah apa pun tujuan
pembelajaran.
-
Agar
tidak mengecewakan siswa, beri kesempatan untuk menjawab dengan pikiran siswa
sendiri, guru jangan memberi peeertanyaan yang jawabannya merupakan jawaban
guru sendiri.
-
Jika
terpaksa memberi pertanyaan yang jawabannya benar atau salah, tindak lanjuti
dengan pertanyaan tambahan.
-
Buatlah
pertanyaan yang jelas, langsung dan spesifik.
-
Jangan
bertanya lebih dari satu pertanyaan pada saat yang sama.
-
Saat
merancang ppenerapan metode tanya jawab buatlah catatan tentang kapan akan
berhenti menerangkan, untuk bertanya atau akann menjawan pertanyaan siswa.
-
Dalam
satu sesi pembelajaran buatlah pertanyaan yang merupakan campuran antara
pertanyaan tertutup (closed question) yang jawabannya tertentu dan
pasti, dengan pertanyaan terbuka (opened question).
b.
Menanggapi
secara efektif
-
Berilah
siswa kesempatan untuk berpikir dan meruumuskan jawabannya.
-
Jangan
menyela jawaban siswa.
-
Tunjukkan
bahwa anda berminat terhadap jawaban siswa, baik itu benar atau salah.
-
Kembangkann
suatu tanggapan demi menjaga agar siswa selalu berpikir.
-
Jika
siswa menjawab salah, jelaskanlah dimana letak kesalahannya, selanjutnya
tanyakan pertanyaan lanjutan kepada siswa (mungkin tidak satu pertanyaan,
tetapi serangkaian pertanyaan) yang dapat memandu siswa untuk memperoleh
jawaban yang benar.
3.
Metode
Demonstrasi
Demonstrasi
adalah suatu kegiatan mempertunjukkan jalannya suatu proses, reaksi atau cara
bekerjaanya suatu alat oleh seorang demonstrator dihadapan suatu khalayak.
Hal-hal
penting yang harus dilakukan guru sebelum dilaksanakan metode demonstrasi
antara lain adalah sebagaai berikut:
1.
Rumuskan
dengan jelas tujuan pembelajaaran, kompetensi dasar apa yang harus dikuasai
oleh siswa setelah demonstrasi langsung.
2.
Mempertimbangkan
relevansi metode demonstrasi dengan bahan ajar, kelayakannya, keefektifannya,
dan lain sebagainnya.
3.
Apakah
jumlah siswa tidak terlalu besar, sehingga akibatnya tidak memungkinkan semua
siswa terlihat seluruh proses kegiatan demonstrasi.
4.
Apakah
alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi cukup tersedia, catu daya listrik
jugaa selalu siap.
5.
Menetapkan
garis-garis besar prosedur demonstrasi, guru selayaknya mencoba dulu sebelum
melaksanakan atau tidak.
6.
Memperhitungkan
waktu yang diperlukan, mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai akhir
demonstrasi.
7.
Siswa
diminta untuk mencatat hal-hal yang relevan dengan tujuan demonstrasi dengan
baik.
8.
Selama
demonstrasi amatilah apakah semua proses demonstrasi dapat dilihat oleh para
siswa dengan baik, keterangan-keterangan yang dilakukan untuk menjelaskan,
dapat diterima siswa dengan baik.
9.
Menetapkan
rencana untuk menindaklanjuti kegiatan demonstrasi, setelah penilaian terhadap
hasil peneraapan metode.
4.
Metode
Tugas Membaca Terstruktur
Metode
ini tidak pernah berdiri sendiri, dilaksanakan disekolah, dan tempat
dilaksanakan didalam kelas atau diperpustakaan. Biasanya dilaksanakaan pada
awal pembelajaran sebelum dilanjukkan dengan implementasi metode ini, misalnya
ceramah, tanya jawab, diskusi, atau bahkan mungkin demonstrasi atau ekperimen.
Pelaksanaannya,
guru mula-mula menugasi siswa untuk membaca suatu wacana atau suatu prosedur
langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanaakan guru, petunjuk atau suatu
proses untuk melakukan suatu pratikum dilaboraturium dalam kaitan ekperimentasi
oleh siswa. mengingat peenerappan metode ini secara keseluruhan memerlukan
waktu, hendaknya jangan diterapkan dalam jam pelajaran tersedia pendek.
5.
Metode
Karyawisa
Metode karyawisata disebut pula metode widyawisata, metode studi
ekskursi, seperti terungkap pada namanya menggabungkan antara kegiatan studi
dan rekreasi, tamasya. Manfaat dari meetode ini adalah para pembelajar
memperoleh pengalaman langsung dengan melihat langsung berbagai proses,
fenomena yang terjadi di lokasi studi.
Agar tujuan pembelajaran dapat tercapat dan kepergian keluar kota
tidak sia-sia ada sejumlah hal yang harus dipersiapkan ooleh guru, antara lain:
1.
Rumuskan
tujuan pembelajaran bersama siswa.
2.
Kontak
terlebih dahulu apakah tempat tujuan yang akan dikunjungi sudah benar-benar
siap menerima, sehingga mereka telaahmenyiapkan pembimbing dan sebagainya.
3.
Ada
kaitan antara tempat yang akan dikkunjungi dan materi pembelajaran sebelumnya.
4.
Untuk
memudahkan siswa dalam membuat laporan dan agar lebih fokus, atur siswa dalam
kelompok-kelompok sesuai dengan berbagai aspek sasaran yang akkan dikunjungi.
5.
Buatlah
ikhtisar atau ringkasan pokok-pokok materi yang akan dikunjungi, bagikan kepada
siswa untuk dipelajarai dan didiskusikan bersama, sehingga mereka lebih siap
saat kunjungan.
6.
Menugasi
siswa agar catatan-catatan tentang proses-preses esensial atau produk utama
dari perusahaan/objek yang dikunjungi.
7.
Membuat
rancangan penilaian hasil karyawisata untuk bahan membuat laporan yang antara
lain meliputi:
§ Laporan sementara tentang apa-apa yang dilihat dan didengar.
§ Melakukan penafsiran, penilaian dan analisis terhadap hasil
pertemuan lapangan.
§ Membuat rangkuama pengalaman-pengalaman kelompok.
§ Menyusun saran-saran tindak lanjut.
6.
Metode
Presentasi Berbasis Media
Metode ini pada hakikatnya juga tidak pernah berdiri sendiri.
Seringkali digabungkan dengan metode ceramah, terkadang dengan metode tanya
jawab, atau media diskusi. Dalam hal ini disamping harus tersedia notebook
(laptop) dan LCD, pada daerah tertentu yang jauh dari kota besar masih
digunakan plastik transparan dan OHP, sekarang sudah amat jarang, dan
tentu saja catu daya listrik. Paparan biasanya dipresentrasikan denga aplikasi
program power point. Jadi guru harus menguuasai program ini disamping program
word.
7.
Metode
Pelatihan
Implementasi metode ini juga tidak pernah berdiri sendiri. Biasanya
dilaksanakan pada pertengahan guru mengajar. Dapat diawali dengan metode
ceramah untuk menekankan butir-butir penting dan apersepsi kepada siswa, atau
tanya jawab yang membimbing dan mengaarahkan siswa kearah materi yag akan
dilatih. Misalnya untuk sekolah dasar latihan dalam aritmatika tingkat dasar
seperti menambah, menjumlahkan, mengurangi, mengalikan dan membagi.
B.
Media
Pembelajaran
1.
Pengertian Media Pembelajaran
Kata
media berasal dari bahasa Latin medius
yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’. Gerlach
& Ely (dalam Azhar Arsyad, M.A., 2010: 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis
besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat
siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian
ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih
khusus, pengertian media dalam proses belaja mengajar cenderung diartikan
sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap,
memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Dalam kegiatan
belajar mengajar, sering pula pemakaian kata media pembelajaran digantikan
dengan istilah-istilah seperti alat pandang dengar, bahan pengajaran (instructional material), komunikasi
pandang-dengar (audio-vissual), pendidikan
alat peraga pandang (visual education), teknologi
pendidikan (educational technology),
alat peraga dan media penjelas.
Berdasarkan
uraian beberapa batasan tentang media di atas, berikut dikemukakan ciri-ciri
umum yang terkandung pada setiap batasan itu.
1.
Media
pendidikan memiliki pengertian fisik yang dikenal sebagai perangkat keras yaitu
sebagai benda ayang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera.
2.
Media
pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai perangkat lunak,
yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakann isi
yang ingin disampaikan kepada siswa.
3.
Penekanan
media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4.
Media
pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun
di luar kelas.
5.
Media
pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam
proses pembelajaran
6.
Media
pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio, televisi), kelompok
besar dan kelompok kecil (misalnya: modul komputer, radio tape/ kaset, video
recorder).
7.
Sikap,
perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan
penerapan ilmu.
Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan
teknologi. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar
adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis. Kemudian muncul
teknologi audio-visual yang menggabungkan penemuan mekanis dan elektronis untuk
tujuan pembelajaran. Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, media pembelajaran
dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu (1) media hasil teknologi
cetak, (2) media hasil teknologi audio-visual, (3) media hasil teknologi yang
berdasarkan komputer, dan (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan
komputer.
1.
Teknologi
cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku dan
materi visual statis terutama melalui proses percetakan mekanis atau
fotografis. Kelompok hasil teknologi cetak meliputi teks, grrafik, foto atau
representasi fotografik dan reproduksi. Teknologi cetak memiliki ciri-ciri
berikut:
a.
teks
dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkan ruang;
b.
baik
teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseptif;
c.
teks
dan visual ditampilkan statis (diam);
d.
pengembangannya
sangat tergantung kepada prinsip-prinsip kebahasaan dan persepsi visual;
e.
baik
teks maupun visual berpusat pada siswa;
f.
informasi
dapat diatur kembali atau ditata uang oleh pemakai.
2.
Teknologi
audio-visual adalah cara menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin
mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio-visual. Pengajaran
melalui audio-visual bercirikan pemakaian perangkat keras selama proses belajar
seperti mesin proyektor film, tape recorder, dan proyektor visual yang lebar.
Ciri-ciri utama teknologi media audio-visual adalah sebagai berikut:
a.
Bersifat
linear;
b.
dapat
menyajikan visual yag dinamis;
c.
representasi
fisik dari gagasan nyata atau abstrak;
d.
dikembangkan
menurut prinsip psikologis behaviorisme
dan kognitif;
e.
umumnya
berpusat kepada guru dengan tingkat interaktif murid yang rendah.
3.
Teknologi
berbasis komputer adalah cara menyampaikan materi dengan menggunakan
sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor. Pada dasarnya teknologi berbasis
komputer menggunakan layar kaca untuk menyajikan informasi kepada siswa.
Beberapa ciri media yang dihasilkan teknologi berbasis kompyter (baik perangkat
keras maupun perangkat lunak) adalah sebagai berikut:
a.
Dapat
digunakan secara acak, non-sekuensial, atau secara linear;
b.
dapat
digunakan berdasarkan keinginan siswa sebagaimana direncanakannya;
c.
gagasan-gasan
disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, simbol, dan grafik;
d.
pembelajaran
dapat berpusat pada siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi.
4.
Tekonologi
gabungan adalah cara menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa
bentuk media yang dikendalikan oleh komputer. Beberapa ciri utama teknologi
berbasis komputer adalah sebagai berikut:
a.
Dapat
digunakan secara acak, secara non-sekuensial, secara linear;
b.
dapat
digunakan sesuai dengan keinginan siswa bukan saja dengan cara yang
direncanakan dan diinginkan oleh perancangnya;
c.
gagasan-gagasan
disajikan secara realistis dalam konteks pengalaman siswa, menurut apa yang
relevan dengan siswa, dan di bawah pengendalian siswa;
d.
prinsip
ilmu kognitif dan konstruktivitas diterapkan dalam pengembangan dan penggunaan
pembelajaran;
e.
pembelajaran
ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga pengetahuan dikuasai jika
pelajaran digunakan;
f.
bahan
pembelajaran banyak melibatkan interaktivitas siswa;
g.
bahan-bahan
pelajaran memadukan kata dan visual dari berbagai sumber.
2.
Jenis-jenis Media Pembelajaran
Kemp
& Dayton (dalam Azhar Arsyad, M.A., 2010: 37) mengelompokkan media dalam
delapan jenis yaitu sebagai berikut:
1.
Media
cetakan
Media
cetakan meliputi bahan-bahan yang disiapkan di atas kertas untuk pengajaran dan
informasi. Di samping buku teks atau buku ajar, termasuk pula lembaran penuntun
berisi gambar atau foto di samping teks penjelasan, penuntun belajar, penuntun
instruktur serta brosur dan newsletter.
Kelebihan media cetakan ini, yaitu materi pelajaran dapat dirancang sedemikian
rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan siswa, baik yang cepat msupun yang
lamban membaca dan memahami. Namun, pada akhirnya semua siswa diharapkan dapat
menguasai materi pelajaran itu. Sedangkan keterbatasan media cetakan ini, yaitu
sulit menampilkan gerakan dalam halaman media cetakan serta biaya percetakan
akan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang
berwarna-warni.
2.
Media
pajang
Media
pajang pada umumnua digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi di depan
kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, flip chart, papan magnet, papan kain, papan buletin dan pameran.
Kelebihan dari media pajang ini, yaitu pemakai dapat secara fleksibel membuat
perubahan-perubahan selama penyajian materi berlangsung. Sedang keterbatasan
dari media pajang ini, yaitu pada saat guru menulis di papan, guuru
membelakangi siswa dan jika ini berlangsung lama tentu akan mengganggu suasan
dan pengelolaan kelas.
3.
Proyektor
Transparansi (OHP)
Transparansi
yang diproyeksikan adalah visual baik berupa huruf, lambang, gambar, grafik
atau gabungannya pada lembaran bahan tembus pandang atau plastik yang
dipersiapkan untuk diproyeksikan ke sebuah layar atau dinding melalui sebuah
proyektor. Kelebihan dari OHP ini yaitu
pantulan proyeksi gambar dapat terlihat jelas pada ruangan yang terang (tidak
perlu pada ruangan yang gelap) sehingga guru dan murid dapat saling melihat,
serta guru selalu bertatap muka dengan siswa karena OHP dapat diletakkan di
depan kelas. Sedangkan keterbatasan dari OHP ini, yaitu listrik pada ruang atau
lokasi penyajian harus tersedia, harus memiliki teknik khusus untuk pengaturan
urutan baik dalam hal penyajian maupun penyimpanan.
4.
Rekaman
Audio-Tape
Pesan
dan isi pelajaran dapat direkam pada tape magnetik sehingga hasil rekaman itu
dapat diputar kembali pada saat diinginkan. Pesan dan isi pelajara itu
dimaksudkan untuk merangsang pikiran, perasaaan, perhatian, dan kemauan siswa
sebagai upaya mendukung terjadinya proses belajar. Kelebihan dari rekaman
audio-tape ini, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendengarkan
diri sendiri sebagai alat diagnosis guna membantu meningkatkan keterampilan
mengucapkan, membaca, mengaji atau berpidato. Sedangkan keterbatasan dari
rekaman audio-tape ini, yaitu sulit menentukan lokasi suatu pesan atau
informasi. Jika pesan atau informasi berada di tengah-tengah pita, maka akan
memakan waktu lama untuk menemukannya, apalagi jika tape tidak memilik
angka-angka penuntun putaran pitanya.
5.
Film
dan Video
Film
atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa
proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup.
Kelebihan dari media film dan video ini, yaitu dapat melengkapi
pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi,
berpraktik dan lain-lain. Film dan video dapat menunjukkan objek yang secara
normal tidak dapat dilihat, seperti cara kerja jantung ketika berdenyut.
Sedangkan keterbatasan dari media film dan video ini, yaitu pada saat film
dipertunjukkan, gambar-gambaR bergerak terus sehingga tidak semua siswa mampu
mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut.
3.
Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Dalam
suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amt penting adalah metode
mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan
salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran
yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus
diperhatikan dalam memilih media.
Meskipum demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media
pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim,
kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Levie & Lentz (dalam Azhar Arsyad, M.A., 2010: 16) megemukakan
empat fungsi pembelajaran, khususnya media visual, yaitu sebagai berikut:
1.
Fungsi
Atensi
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan
mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang
berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi
pelajaran.
2.
Fungsi
Afektif
Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan
siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang
visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang
menyangkut masalah sosial atau ras.
3.
Fungsi
Kognitif
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian
yang mengungkapkan bahwa lambang visual
atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat
informasi atau pesa yang terkandung dalam gambar.
4.
Fungsi
kompensatoris
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil
penelitian bahwa media visual yaang memberikan konteks untuk memahami teks
membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam
teks dan mengingatnya kembali.
(Azhar Arsyad, M.A., 2010:
25) menyimpulkan manfaat dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar
mengjar sebagai berikut:
1.
Media
pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat
memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2.
Media
pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat
menimbulkan motivasi belajar, interaksi
yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk
belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3.
Media
pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu:
a.
Objek
atau benda yang terlaalu besaruntuk ditampilkan langsung diruang kelas dapat
degamti dengan gambar, foto, slide, realita, film, radio atau model.
b.
Objek
atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak
oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide, atau
gambar.
c.
Kejadian
langka yang terjadi dimasa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat
ditampilkan melalui rekaman video, film, foto. Slide disamping secara verbal.
d.
Objek
atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilakan secara
konkret melalui film, gambar, slide atau simulasi komputer.
e.
Kejadian
atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti
komputer, film, dan video.
f.
Peristiwa
alam seperti kejadiannya letusan gunung berapi atau proses dalam kenyataan
memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupu-kupu dapat disajikan
dengann teknik-teknik rekaman seperti time-lapse
untuk film,video, slide, atau simulasi komputer.
4.
Media
pembelajaraan dapat diberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang
peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta kemungkinan terjadinya
interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkuannya misalnnya melalui
karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad,
Azhar. 2010. Media pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan
Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Suyono dan Haryanto. 2015. Implementasi
Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pebalajaran. 2012. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.







0 komentar:
Posting Komentar